Tentang Kami

Biennale
Jawa Tengah Kedua
Digelar
Oktober 2018
Usung "The Future of History"

Tentang Kami

BIENNALE JAWA TENGAH #2

"THE FUTURE OF HISTORY"

(Masa Depan Sejarah)

Art, City, and The Right to The Production of Space (Seni, Kota, dan Hak untuk Produksi Ruang)

Rancang Pemikiran

Hari-hari ini sejarah tengah diguncang— dan terguncang—oleh kabar palsu (hoax), ujaran kebencian, dan politik dasamuka di Republik ini. Akibatnya, fakta menjelma fiksi, fiksi menjadi fakta, cerita berubah dusta, dusta mengejawantah cerita yang bertukar-tangkap dengan beringas di ruang-ruang publik di negeri ini. Ketakutan dan ketidaktahuan, kesedihan dan kemarahan, ke - beranian dan pengorbanan pun bersite- gang di ruang-ruang pribadi bernama media sosial.

Alih-alih, media sosial yang bersifat pribadi itu merupakan terra incognita yang terbuka diperebutkan dan didaku oleh siapa saja. Bisa dimengerti jika apa pun bisa terjadi secara antagonistik di sana. Pengagungan dan pengingkaran adalah oposisi berpasangan yang kerap kali ruang fisik dan ruang mental masyarakat, tapi juga “kebutuhan mengada” (necessity of being) mereka dengan ilmu dan seni di ruang publik.

Tak mengherankan jika ruang publik —terutama ruang publik kota —menjadi arena niaga penuh bujuk-rayu dan tipu-muslihat. Yang mengejutkan budaya mau bersekutu dengan niaga untuk melahirkan apa yang dikenal sebagai budaya konsumen dan konsumerisme.

Dari persekutuan itu, sebagaimana ditengarai oleh para pengamat, budaya konsumen membikin khalayak, tak terkecuali penghayat senirupa, gugup —alih-alih terpesona —dalam meresponnya. Gugup karena mesin produksi budaya konsumen begitu besar dan didanai dengan melimpah sehingga hasilnya bisa nyaring-melengking dan mahahadir. Terpesona karena konsumerisme nampaknya semakin kultural—tak kalah pentingnya dengan menjual atau sekadar memajang citra, suara, dan kata- kata seperti harta benda lainnya. Atas respons itu, timbul pertanyaan bernada cemas: Jika komoditas cenderung menjadi budaya—ruang apa yang tersisa untuk seni? Masihkah kita dapat menulis “sejarah yang-Lain” atau “sejarah ad hoc” di antara keterpesonaan dan kegugupan terhadap budaya konsumen yang menggurita?

Sejumlah penghayat seni rupa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan cara “membonceng bebas” ruang-ruang budaya konsumen, seperti pusat-pusat perbelanjaan, di kawasan perkotaan. Bursa seni rupa (art fair) dan balai lelang (auction house) adalah dua entintas utama seni rupa yang sering kali membonceng budaya konsumen sehingga memunculkan persekutuan kepentingan antara seni dan konsumerisme. Yaitu nilai tukar karya seni rupa kontemporer sebagai benda artistik mewah —bahkan harta oligarkis —yang berpaut-erat dengan gairah dan nafsu serta kasak-kusuk di balik tengkuk akan uang, status, dan selebritas.

Sementara itu, bagi sejumlah peng hayat seni rupa yang lain, pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab lewat jalan penciptaan ruang seni yang menghela praktik artistik dan peristiwa estetik bernilai guna apresiasi, resepsi, re kreasi, referensi, dan studi. Salah satu praktik artistik dan peristiwa estetik yang dipandang penting di dunia seni rupa adalah biennale. Seorang pengamat bahkan menganggapnya sebagai bukan hanya “pameran yang menciptakan seni rupa kontemporer” —melainkan juga “fenomena paling signifikan dalam budaya global kontemporer.”

Atas anggapan tersebut, biennale dipercaya sebagai zona kontak timbal-balik yang dapat menengahi kepentingan dan kebutuhan museum dan kota. Bahkan ada yang memercayai bahwa biennale merupakan kilasan utopia transnasional. Dengan begitu, bisa dipahami jika biennale kerap dikondisikan sebagai peristiwa politik dan spiritual yang merenungkan yang -kini (the present) dengan keinginan mengubahnya. Tapi karena yang kita ketahui tentang yang-kini berasal dari yang-lalu—maka biennale bertindak seperti, pinjam istilah Marcel Duchamp, “makhluk mediumistis” yang berikhtiar mencari jalan keluar menuju lapangan terbuka masa depan bagi penghayat seni rupa, warga kota, dan khalayak umum. Karena itulah muncul pendapat bahwa biennale yang ideal akan memanfaatkan ketidakpastian yang diperhitungkan (calculated uncertainty) dan ketidaklengkapan yang disadari (conscious incompleteness) untuk menghasilkan kata- lis guna menyegarkan perubahan di suatu kota di mana biennale digelar.

Dari situ, biennale memaklumatkan dirinya bukan hanya sebagai peristiwa seni rupa dua tahunan yang berkehendak mempresentasikan perkembangan estetik dan pencapaian artistik seorang atau sekelompok perupa di suatu kota sepanjang dua tahun terakhir, melainkan juga proyeksi artistik bagi kebutuhan perkotaan yang spesifik akan—pinjam kata-kata Henri Lefebre—“tempat perjumpaan” yang “mengutamakan nilai guna” — suatu “lokasi yang berkualitas, tempat keserentakan dan perjumpaan, sarana pertukaran yang tidak diperantarai nilai-tukar, perdagangan, dan keuntungan”.

Rancang Panggung

Berdasar Rancang Pemikiran tersebut, saya ingin mengalamat - kan kepada Biennale Jawa Tengah sejumput pengetahuan mutakhir yang memungkinkannya insaf bah - wa salah satu layanan terpenting biennale adalah membantu publik untuk melihat apa yang terjadi pada kehidupan seni rupa sekali- gus kehidupan sosial-politik di suatu kota—dan apa yang mung - kin terjadi di masa depan di kota tersebut.

Tapi, mengingat ruang-lingkup pengertian “kota” yang termaktub dalam “Jawa Tengah”—maka satu hal utama yang perlu segera diartikulasikan di sini adalah bahwa Bien nale Jawa Tengah dapat merenggangmasukkan kepentingan dan kebutuhan pemangku kepentingan —utamanya perupa di Jawa Tengah, bukan di Kota Sema - rang semata.

Dengan kata lain, Biennale Jawa Tengah seyogyanya menjalin —kalau bukan menjadi—kontak produktif dengan seni rupawan dan lingkungan setempat—antara lain ruang gagas perupa, galeri, museum, dan kampus. Selain itu, kontak produktif dengan pengamat dan penghayat sejarah serta pembelajar dan praktisi perkotaan perlu dibangun guna secara aktif mengait-eratkan Biennale Jawa Tengah dengan perkara dan pokok soal sejarah, kota, dan seni rupa sebagai hak untuk produksi ruang yang mengutamakan nilai guna dalam interaksi publik atau relasi sosial di perkotaan-perkotaan Jawa Tengah.

Karena itulah terbayangkan dua panggung “umum“ Biennale Jawa Tengah II 2018. Pertama, panggungeksibisi di mana Biennale Jawa Tengah II 2018 mempresentasikan produksi estetik dan praktik artistik senirupawan di Jawa Tengah yang bermanfaat sebagai referensi (bagi) publik mengenai perkembangan estetik dan pencapaian artistik seorang atau sekelompok perupa di Jawa Tengah sekira dua tahun belakangan. Namun demikian, panggung tersebut dapat “diperluas” dengan mengikutsertakan perupa-perupa dari provinsi lain guna mendapatkan perspektif bandingan mengenai tema dan topik Biennale Jawa Tengah II 2018.

Kedua, panggung diskusi di mana Biennale Jawa Tengah II-2018 menggelar serangkaian perbincangan terbuka yang saksama dan dalam tempo secukup-cukupnya tentang tema dan topik Biennale Jawa Tengah II 2018 bersama publik —khususnya orang-orang yang relevan untuk membicarakannya. Sampai di sini, saya harus mengatakan bahwa rancang-bangun ini masih sangat “kasar” dan konseptual —sehingga perlu “perhalus” dengan sejumlah sosok dan pokok serta praktik yang konkrit lewat musyawarah untuk mufakat antara “tim kurator” dan “tim manajemen” Biennale Jawa Tengah II-2018.

Semarang, 23 September 2018
Tim Kurator

PANITIA BIENNALE JATENG #2 2018

STEERING COMMITTEE
1. Ganjar Pranowo SH, MIP, Gubernur Jawa Tengah
2. Urip Sihabudin, SH, MH, Kepala Disporapar Provinsi Jawa Tengah
3. Hendrar Prihadi, SE, MM, Walikota Semarang
4. Prof Dr Tjetjep Rohendi Rohidi, MA, Guru Besar Seni Rupa Universitas Negeri Semarang
5. dr. Oei Hong Djien, SpPA, senior kolektor dan sesepuh kolektor seni rupa
6. Ir Chris Darmawan, pelaku bisnis seni rupa dan pemilik Semarang Contemporary Art Gallery
7. Deddy PAW,SSn, perupa dan penggiat seni budaya yang mengenal banyak jejaring di bidang seni rupa dan kolektor nasional

TIM KURATOR
Dr Djuli Djatiprambudi
Wahyudin

Asisten kurator: Wisnu Bharata

TEMPAT
Kawasan Kota Lama Semarang

WAKTU
7 s/d 21 Oktober 2018

ORGANIZER COMMITTEE
Komunitas Pewarta dan Perupa Jawa Tengah (KP2JT)
Ketua: Drs Gunawan Permadi , MA
Project Oficial: Aditya Armitriyanto, Putut Wahyu Widodo
Sekretaris: Hery Purnomo
Marketing & Sponsorship: Tavif Rudiyanto, Nugroho DS, Putra Pramoedya (EO)
Humas & Media: Muhamad Rifai, Yuli Cahyono, Fahmi MZ
Program: Putra Pramoedya (EO)
Publikasi & Sosialisasi: Leonardo Agung Budi, Toto TN
Publishing Kit: Sigit Anugroho
Properti: Putra Pramoedya (EO)
Pengelolaan Karya: Kelas Wolu, Kokoh Nugroho
Acara: Putra Pramoedya (EO)
Arsip & Dokumentasi: Leonardo Agung Budi
Koordinator Volunteer: Deny Aprianto, Wahyu Putra Pembayun
Koordinator Mediasi: Kokoh Nugroho, Aristya Kusuma Verdana
Logistik & Transportasi: Putra Pramoedya (EO)
Katalog: SM Artistik
Security: Yunus ”mBah Jambrong” Reza

MEDIA PARTNER
Harian Suara Merdeka